Rabu, 02 Juni 2010


Separuh pengrajin mebel Gombang gulung tikar

Tagged with: Pengrajin

pengrajin-mebelCawas (Espos) Lebih dari 50% pengrajin di Sentra Industri Mebel Desa Gombang Alas Kecamatan Cawas, Klaten, gulung tikar sejak tahun 2006 silam

Semula jumlah pengrajin di sentra industri itu mencapai 700-an orang. Lantaran minimnya pasokan bahan baku kayu mahoni dan jati, serta kurangnya modal dan buruknya pemasaran, kini, jumlah mereka menyusut drastis. Berkurangnya jumlah pengrajin itu, hingga kini terus terjadi seiring belum adanya jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.

”Di tingkat pengepul, kami kesulitan memasukkan barang jika tidak memberikan uang. Padahal barang tersebut merupakan pesanan. Selain itu, modal kami selalu habis karena banyak pembeli berutang dengan waktu yang sangat lama. Bahkan, sering tertipu,” ujar Ponidi, salah seorang pengrajin yang ditemui Espos di Kantor Pemerintah Desa Gombang, Senin (22/2).

Akibat kondisi tersebut, lanjut Ponidi, dirinya kini lebih berkonsentrasi mengurus sawah ketimbang membuat mebel dan kerajinan kayu dengan model antik. Ponidi hanya berproduksi jika ada pesanan. Namun, karena keterbatasan bahan baku, ia kini menggunakan kayu pohon mangga untuk membuat kerajinan kayu dengan model antik.

Senada, pengrajin lain, Suroso, menuturkan dirinya masih lebih mujur dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dia mampu bertahan sebagai pengrajin mebel meskipun banyak teman-temannya yang terpaksa beralih profesi sebagai peternak dan petani.

”Lama kelamaan pengrajin di desa ini habis. Setiap tahun ada yang menutup usahanya. Beberapa dari mereka ada yang menjadi peternak. Ada pula yang jadi buruh dan petani. Pengrajin di sini sekarang seperti mati suri. Hidup juga tidak, mati pun tidak,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya.

Sementara itu, Kepala Dusun III Desa Gombang, Cawas, saat ditemui di Kantor Pemerintah Desa Gombang, mengungkapkan pihaknya tidak bisa banyak membantu untuk meningkatkan kembali usaha para pengrajin kayu di desanya. Apalagi, memberi bantuan modal. “Pemerintah desa hanya bisa memberi saran dan masukan. Untuk modal, kami belum bisa membantu,” tuturnya. - Oleh : m84

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Selasa, 23 Februari 2010 , Hal.VII

Tidak ada komentar:

Posting Komentar